Ensiklopedi Al-Quran

Switch to desktop Register Login

Kisah Nabi Ibrahim, Teladan Dalam Mendidik Keluarga

Di antara manusia pilihan yang sukses mendidik keluarganya adalah Nabiyullah Ibrahim alaihis salam. la bagai manusia langit yang berjalan di bumi. Kisah keluarga Ibrahim yang penuh ketundukan kepada Allah. Perjalanan hidup yang penuh dengan pengorbanan menjadikan Nabi Ibrahim sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik. Keberhasilan Nabi Ibrahim alaihis salam, Sarah yang sholehah, Hajar -seorang perempuan yang tegar- dan Ismail - seorang anak yang sholeh dan mampu menguatkan dan mengokohkan keimanan bapaknya Ibrahim alaihis salam.

Nabi Ibrahim sebagai kekasih Allah -kholilullah-, telah berhasil mendidik keluarganya menjadi keluarga yang senantiasa mentauhidkan Allah. Ketegasan Nabi Ibrahim ditampakkan ketika melihat ayah dan kaumnya dalam kesesatan menyembah berhala. Berbuat kemusyrikan, meminta kepada berhala-berhala dan jauh dari petunjuk Allah.

Ibrahim mengatakan kepada ayahnya, orang yang ia cintai saat melihat kemusyrikan yang dilakukan oleh ayahnya.

Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya Azar: “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan. Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu  dalam kesesatan yang nyata.” (Al An'am [6]: 74)

Ketika melihat bapaknya tidak tunduk kepada kalimat tauhid, begitupula kaumnya, maka Ibrahim dengan

tegas berlepas diri terhadap kemusyrikan yang mereka lakukan. Hal ini diabadikan Allah swt. dalam firman-Nya;

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang balk bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia: ketika mereka berkata kepada kaum mereka:”Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. (Al Mumtahanah [60]: 4)

Saat Nabi Ibrahim berhijrah ke Mesir bersama Sarah, di tengah perjalanan, ia ditangkap para pengawal kerajaan untuk diserahkan kepada raja yang lalim. Raja yang merebut setiap perempuan cantik yang ada di wilayahnya untuk dinodai kehormatannya. Saat Sarah dihadapkan kepada raja yang dhalim dan durjana tersebut. Sarah dalam keadaan suci dan berwudu. Saat sang raja mendekati, Sarah berdoa agar Allah membinasakan sang raja. Raja tak bisa berbuat apa-apa, karena secara tiba-tiba kaki dar. tangannya mengejang. Raja memohon kepada Sarah agar mendoakan kepada Allah untuk membebaskan tangan dan kakinya, Sarahpun mendoakannya.

Akhirnya sang raja kembali sehat seperti semula. Namun, ia masih berkeinginan untuk menodai Sarah, Sarah berdoa kembali, akhirnya tangan dan kakinya mengejang kembali, dan memohon kepada Sarah untuk didoakan lagi. Akhirnya Sarah mendoakan dan sang raja kembali sehat.

Untuk yang ketiga kalinya, sang raja mendekati Sarah, namun terjadilah seperti sebelumnya. Akhirnya ia memohon kepada Sarah untuk didoakan dan Sarahpun mendoakan kepada raja tersebut dan sembuhlah ia. Akhimya sang raja membebaskan Sarah dan dikembalikan kepada Ibrahim dengan diberi salah seorang perempuan yang bernama Hajar. Akhirnya Sarah kembali bersama Ibrahim di sertai seorang perempuan pemberian sang Raja yaitu Hajar.

Setelah waktu berjalan, Sarah merasa tidak memiliki keturunan. la pun menyadari untuk kelanjutan dakwah suaminya Nabi Ibrahim, untuk kelanjutan dakwah tauhid, akhirnya Sarah mempersilahkan Ibrahim menikahi Hajar. Dengan kebesarah hati. keteguhan iman dan keyakinan kepada Allah, ia mau di madu hanya semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah swt .

Akhirnya Nabi Ibrahim menikahi Hajar. Setelah waktu berjalan sekian lama, akhirnya Hajarpun melahirkan seorang anak yaitu Ismail. Untuk menjaga hati Sarah Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk membawa Hajar dan anaknya Ismail berhijrah meninggalkan tempak kelahirannya.

Hajar di tinggal di tengah-tengah padang pasir. Tempat yang tiada bertuan, tiada air, yang ada hanyalah padang pasir yang gersang dan tidak berpenghuni. Hajar yang shalehah membuktikan ketegarannya, saat ia hams ditinggalkan sendiri ditengahtengah padang pasir bersama anak yang masih mungil.

Hajar bertanya kepada suaminya Nabi Ibrahim saw. ‘Kepada siapa engkau tinggalkan kami wahai kekasih ar rahman'

Ibrahim tidak menjawab, ia hentikan langkahnya, kemudian saat akan melanjutkan perjalanan, Hajar kembali bertanya; ‘Kepada siapa engkau tinggalkan kami wahai kekasih ar rahman?' Ibrahim kembali tidak menjawab, ia hentikan langkahnya, kemudian saat akan melanjutkan perjalanan, Hajar kembali bertanya; ‘Kepada siapa engkau tinggalkan kami wahai kekasih ar rahman? Apakah Allah yang memerintahkanmu?' Ibrahim menjawab; ‘Ya’ . Tenanglah hati Hajar seraya mengatakan, "Pasti Allah tidak akan menelantarkan hamba-Nya."

Sebelum meninggalkan Hajar, Nabiyullah Ibrahim berdoa kepada Allah;

"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur " (Ibrahim [14]: 37)

Cobaan yang dialami Ibrahim. khalilullah -kekasih Allah- tidak cukup sampai disitu, ketika Isi nail anak semata wayang yang sangat ia cintai menginjak dewasa, ia mendapatkan perintah Allah untuk menyembelihnya. Dengan keteguhan dan keimanan yang tinggi. Ismail meneguhkan hati ayahnya agar dengan ikhlas melaksanakan perintah Allah.

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata "Wahai anakku! Sesungguhnya aku berrnimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!, "Dia (Ismail, menjawab "Wahai Ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan. Allah Subhanahu wa ta’ala kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar" (As- Shafaat [37]: 102).

Inilah keberhasilan Ibrahim mendidikan istri dan anaknya. Keberhasilannya membentuk keluarga yang taat kepada Allah. Tunduk kepada ketetapan Allah. Berjiwa tauhid, mempunyai pengorbanan yang tinggi dan penuh dengan keikhlasan meiaksanakan perintah Allah.

Adakah keluarga-keluarga kita hari ini mencintai Allah. Mendidik dengan kalimat tauhid. Berburu akherat, atau justru keluarga-keluarga yang dilalaikan dengan dunia. Jahil terhadap agamanya. Mementingkan hawa nafsunya, semata-mata mengejar dunia dengan melupakan akherat.

 

Karya : Abdullah Khoir 

Ensiklopedi Al-Qur'an | Tuntunan Hidup Menurut Al-Qur'an dan Hadits

Top Desktop version